Control

Banyak sekali film-film yang merupakan hasil adaptasi kisah-kisah hidup banyak selebtiris dan tokoh ternama dunia. Beberapa bahkan dibuat saat sang selebritis atau tokoh tersebut masih hidup. Lihat saja bagaimana kisah hidup Kurt Cobain baik menjadi inspirasi banyak film-maker, bahkan tahun 2010 lalu muncul lagi sebuah dokumenter terlengkap dari hidup Cobain, When You’r Strange. Lihat pula Stephen Frears yang mengambarkan secara fiktif bagaimana Ratu Elizabeth II menerima kematian mantan menantunya, Lady Di dalam The Queen (2006). Atau cerdasnya Benneth Miller menvisualisasikan bagaimana Truman Capote berhasil menyelesaikan In Cold Blood juga dengan cara yang juga ‘cold blood dalam Capote (2005).

Dunia musik memberikan banyak catatan sejarah panjang bumi ini. Hasil-hasil karya musik menjadi salah satu karya terbaik anak manusia yang diperuntukkan untuk manusia itu sendiri. Musisi cerdas menjadi panutan dan digemari ribuan bahkan jutaan orang karena berhasil membawa perubahan besar dalam dunia musik itu sendiri atau bahkan mempengaruhi banyak hal disekitarnya. Selain Kurt Cobain, salah satu yang mungkin masih akan terus diingat adalah Ian Curtis. Pentolan dan vokalis band Joy Division yang sangat populer akhir 1970an. Ian ditemukan mengantung dirinya di rumahnya sendiri pada usia 23 tahun. Control mencoba mengilas balik kisah hidup Ian sepanjang kariernya bersama Joy Division sampai akhirnya meninggal mengenaskan.

Ian Curtis (Sam Riley) berasal dari kota kecil Macclesfield, Chesire, Inggris. Ian adalah pribadi yang tertutup, suka menyendiri, sering menghabiskan waktu di kamarnya sambil mendengarkan musik-musiknya David Bowie, menulis puisi dan menenggelamkan impian-impiannya bersama kesuraman pikirannya. Kelihaian Ian dalam menulis puisi, lirik lagu dan kecintaan pada musik membawanya bertemu dengan Bernard (James Anthony Pearson) dan Peter Hook (Joe Anderson) yang menawarkan padanya untuk menjadi vokalis utama dan penulis lagu-lagu untuk band mereka yang bernama Warsaw. Kecocokan diantara mereka berlangsung lama hingga beberapa tahun kemudian mereka sepakat menganti nama Warsaw dengan Jov Division.

Sebuah keputusan terbesar dalam hidupnya adalah menikahi Deborah Curtis, kekasihnya yang baru berusia 16 thn, dan saat itu Ian baru berusia 19 thn. Terlalu sibuk dengan bandnya dan tidak bisa menentukan fokus utama hidupnya membuat hubungan pernikahannya dengan Deborah terombang-ambing tidak jelas. Apalagi kesuksesan Joy Division semakin melambungkan namanya yang membuat Ian semakin tidak bisa mengontrol dirinya. Pertemuannya dengan Annik (Alexandra Maria Lara) seorang wanita Belgia semakin menjauhkannya dari Deborah.

Ditangan manajer Rob Gretton (Toby Kebbel) Joy Division menunjukkan kemajuan yang pesat dan mengembirakan. Bertolak belakang dengan kehidupan pribadi Ian. Selain isu perselingkuhan yang merusak hidupnya, kondisi kesehatan juga menjadi penyebab Ian terjebak pada tujuan hidup yang tak tentu arah. Kejayaan, popularitas yang berlebihan, ketidak seimbangan mental dalam menghadapi semuanya mengantar Ian pada sebuah keputusan untuk mengakhiri hidupnya. Entah bentuk dari rasa bersalahnya pada Deborah, atau ketidakpuasannya pada Joy Division, atau kondisi emosional kejiwaannya yang tidak menentu, tidak begitu jelas ditampilkan apa sebenarnya alasan utama Ian akhirnya memutuskan mengantung diri di dapur rumahnya pada 18 mei 1980.

Director:
Antoin Corbjn
Screenplay :
Deborah Curtis (Novel), 
Matt Greenhalgh (Screenplay)

Cast:
Sam Riley – Ian Curtis
Samantha Morton – Deborah Curtis
Alexandra Maria Lara – Annik Honore
Toby Kebbel – Rob Gretton
Joe Anderson – Peter Hook
James Anthony Pearson – Bernard Summer
Harry Treadaway – Stephen Morris

Film ini diangkat dari sebuah novel yang ditulis sendiri oleh istri Ian, Deborah Curtis yang berjudul Touching from a Distance. Deborah yang dinikahi Ian pada usia 16 tahun harus berbesar hati merelakan perasaan marah, benci dan terbuang untuk menuliskan kenangan termanisnya tentang mantan suaminya. Deborah menuliskan tanpa ada rasa benci dan penyesalan pada novel tersebut, benar-benar menjadi sebuah novel perjalanan hidup salah seorang musisi muda terhebat yang pernah hidup dengan cinta yang begitu besar dari istrinya.

Tidak jauh berbeda dengan novelnya, Corbijn juga berhasil memaparkan adaptasinya menjadi sebuah biopic musisi yang tanpa ada embel-embel dramatisasi yang berlebihan, menjadi sebuah kisah menyentuh tanpa perlu adanya tempelan kesedihan karena pada dasarnya kisah hidup Ian Curtis sudah sangat mengugah hati. Detail teknis diperlihatkan dengan baik karena film ini berhasil membangun suasana tahun 1970an seperti misalnya penggunaan sinematografi hitam putih. Naskah adaptasi yang ditulis oleh Matt Greenhalgh berhasil menuangkan lingkupan kisah sendu hidup Ian dengan sentuhan musik-musik Joy Division yang ditampilkan juga dengan lengkap dan asli.

          Yang menjadi poin terbaik film ini adalah aktor Sam Riley yang memerankan Ian. Sam memiliki paras yang begitu mirip dengan Ian, berhasil membawakan perannya dengan baik. Penonton berhasil dibuat yakin bahwa Ian Curtis seperti hidup kembali dengan gestur, bahasa tubuh dan caranya berbicara Ian Curtis diadaptasinya dengan sempurna. Tidak salah kemudian kalau Sam mendapatkan banyak sekali kritikan positif dan beberapa penghargaan sebagai pendatang baru terbaik. Samantha Morton yang aslinya telah berusia 30an berhasil menyakinkan penonton menjadi Deborah yang baru berusian 16 thn. Atas usahanya ini Morton mendapatkan nominasi BAFTA 2008 untuk aktris pendukung terbaik.

Sebagai karya perdana dari Corbijn, film ini berhasil memaparkan kisah sederhana yang kompleks dan menyentuh dari salah satu musisi terbaik dunia. Sebuah kisah biopic tanpa dramatisasi dari Ian Curtis dengan identitas musik Joy Division yang kuat.

Ini diaaa foto"nyaaaa dan juga trailernyaaaa :-D









The Best Soundtrack

Musik menjadi salah satu komponen penting dalam sebuah film. Melalui musik adegan adegan dalam film jadi lebih memiliki rasa, apakah itu kesedihan, ketegangan, ketakutan, cinta, kelucuan dan segala macam. Musik-musik dalam film bahkan memiliki penghargaan sendiri, seperti dalam oscar terdapat kategori penata musik asli terbaik dan penata lagu untuk film terbaik. Bahkan kadang musik untuk sebuah film bisa lebih terkenal dari filmnya sendiri. Menjadi bagian sejak film tercipta tentu menghasilkan banyak sekali komposer-komposer hebat. Sebut saja John  Williams, Vangelis, Jon Barry, Ennio Morricone, Mark Isham, hingga generasi saat ini seperti Dario Marianelli. Saat ini musik untuk ini film telah dijual terpisah dari film. 

Berikut 15 Best Track from Original Score Film sepanjang masa :

1.    La Valse d’amelie (Amelie.2001)
Musik karya Yan Tiersen ini berhasil membentuk karakter Amelie yang ceria, suka menolong orang di sekitarnya dan seperti tidak pernah ada kesedihan dalam hidupnya.


2.    Dead Already (American Beauty.1999)
Thomas Newman memanfaatkan bunyi-bunyian perkusi dengan sentuhan musik techno memberi kesan ironi pada hidup Lester Burharm, musiknya terdengar powerfull yang justru sengaja dibuat untuk mementahkan kisah hidup Lester yang sudah mati.

3.    Briony (Atonement.2007)
Dario Mariannelli mengunakan efek dentingan mesin ketik berpadu dengan piano, terdengar menegangkan dan misterius. Sesuai sekali dengan Briony muda yang sangat ingin tahu segala hal. Briony yang menyimpulkan sesuatu yang sebenarnya belum mampu dia simpulkan sehingga akhirnya mengorbankan hidup orang-orang disekitarnya.

4.    The Cottage on the Beach (Atonement.2007)
     Dario Marianelli menggabungan piano dan biola untuk memberikan kesan melodrama sedih akhir kisah hidup Cecilia dan James yang diberi kebahagaian oleh Briony dalam novelnya. Mereka bahagia menikmati hidup ditepi pantai.

5.    Deportation Iguazu (Babel.2006)
Gustavo Santaolalla dengan cirikhas permainan gitar klassik latinnya yang terasa perih dan sedih, mengulang melodi yang sama berulang-ulang kali. Ini memperpihatkan bahwa hidup baik atau buruknya selalu memberikan kita sebuah pemikiran dan pengalaman untuk kemudian dijadikan pelajaran yang berharga. 






6.    Bibo No Aozora (Babel.2006)
Permainan piano Ryuichi Sakamoto berpadu dengan gesekan biola menjadi bagian penutup dari Babel. Musik ini seperti menyimpulkan makna film itu secara keseluruhan, bahwa semua kisah kehidupan yang terjadi di bumi ini selalu saling berkaitan satu sama lain.

7.    A Swan in Born (Black Swan.2010)
Clint Mansell memberikan suguhan menegangkan dengan paduan orkestra full untuk memperlihatkan Nina menjadi Black Swan. Musik bermelodi cepat dan tinggi ini berhasil mengiring Nina meninggalkan sisi Whitenya dan terlihat sangat jahat dengan Black Swan.

8.    For the Love of a Pricess (Braveheart.1995)
James Horner memberikan sentuhan orkestra lembut untuk mengiringi Wallace mengikhlaskan kepergian wanita yang begitu dia cintai. Dan dijamin saat musik berakhir penonton akan merasakan kesedihan mendalam Wallace dan ikut menangis.

9.    The Wings (Brokeback Mountain.2005)

Gustavo Santaolalla kembali mengunakan permainan gitar khas miliknya dengan sentuhan melodi country yang lembut. Meninggalkan luka yang mendalam bagi Ennis mengenang semua kisah cintanya bersama Jack Twist. Sungguh tragis.

10.  Childhood and Manhood (Cinema Paradiso.1989)
Ennio Marricone memberikan warna-warna ceria dengan piano, biola dan saxophone pada kenangan masa kecil Alfredo dan mencoba menghidupkan kembali kenangan tersebut pada masa tuanya.

11.  Firefly (The Classic.2003)
Jo Yeong Wook menggunakan Saxophone untuk memberikan kesan romantis pada Joo Hee dan Joon Ha saat mereka terjebak hujan dan kemalamam. Musik melankolis ini berhasil membangun ikatan cinta pertama mereka sambil mencari kunang-kunang.

12.  A Really Good Cloak (Crash.2005)

Mark Isham menyuguhkan permainan piano mendebarkan untuk salah satu adegan puncak film ini. Musik ini berhasil membuat semua penonton akan menahan nafasnya saat anak kecil yang diberikan kalung oleh ayahnya bermaksud mengembalikan kalung tersebut dan sebuah tembakan menerjangnya.



13.  Daisy Ballet’s Karier (The Curios Case of Benjamin Button.2008)
Desplat menyuguhkan orchestra khas pertunjukan ballet plus dengan bunyi-bunyian unik memberikan kesan mewah, mahal, indah serta kecantikan luar biasa dari permainan kaki dan baller yang ditampilakan dengan sempurna oleh Daisy.

14.  Final Letter (Dear Frankie.2004)
Alex Heffes memberikan permainan piano lebih lambat dari musik opening film ini dan semakin meningkatkan ritme menuju ending tracknya. Memberikan kesan mendalam pada surat terakhir Frankie yang akan dibalas ibunya. Frankie berhasil membuat ibunya tersentuh dan menangis dengan surat terakhirnya ini. 

15.  Middlesex Times (Donnie Darko.2001)
Michael Andrew memanfaatkan bunyi-bunyian techno dengan mix berbagai macam efek suara musik yang terkesan misterius tetapi lucu. Track ini mewakili jiwa Donnie yang memang misterius dan lucu.

Paradise Now

Isu bom belakangan ini di Negara kita menjadi polemik yang menimbulkan berbagai macam spekulasi. Tentu yang sangat menjadi pertanyaan semua pihak adalah apa sebenarnya motif dibalik pembomanan beberapa tempat tersebut. Isu agama menjadi salah satu kontroversi yang menjadi pertentangan berbagai pihak. Bagaimana tidak ketika bom kemudian disangkut pautkan dengan sebuah ajaran yang bernama JIHAD. Bagaimana JIHAD diajarkan dalam Islam dan tujuan seperti apa yang sebenarnya ingin diraih seseorang dalam menjalankan JIHAD itu sendiri. Apakah semudah itu saat semua orang memutuskan untuk berjihad dan bahkan justru merugikan orang-orang yang tidak berdosa dan bahkan satu agama dengannya? Spekulasi atas dasar sikap fanatik yang berlebihan sehingga membuat sebagian orang kebabalasan menerima sebuah ajaran? Atau yang memang sengaja dimafaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menciptakan ketidaknyamanan demi kepentingan politik? Entahlah, karena tidak pernah jelas kemudian motif tersebut dibuka ke publik.


Ada baiknya kita mencoba untuk melihat sebuah kisah “JIHAD” yang dikemas oleh sutradara Hany Abu Assad dalam film Paradise Now. Film ini berhasil menjadi yang terbaik untuk film berbahasa asing terbaik Golden Globe 2006 dan nominasi Oscar untuk kategori yang sama. Kemunculan film tidak tanpa kontroversi. Amerika Serikat yang selama ini dianggap pro-Israel mendapatkan protes karena menerima Paradise Now untuk berlaga pada ajang Oscar. Pihak pro-Israel mempertanyakan pengakuan Amerika Serikat atas kedaulatan Palestina. Sebagaimana kita ketahui Oscar menerima satu film setiap tahunnya dari puluhan negara untuk film berbahasa asing terbaik. Dengan menerima wakil Palestina, berarti Amerika mengakui kedaulatan Palestina. Untuk meredam protes tersebut pihak penyelenggara Oscar akhirnya memilih untuk menyebut Paradise Now adalah wakit dari  daerah “teritori” Palestina. 

Keberuntungan akan kontroversi tersebut tentu menjadikan Paradise Now jadi cukup istimewa. Memang tidak bisa dipungkiri, film ini memang mengambil plot ‘kotroversi’ tersebut yaitu persiteruan Israel-Palestina. Namun Hanny Abu Assad tidak ingin terjebak pada kebencian untuk Israel atau Palestina dalam film ini. Karena kemudian isu tersebut hanya sekedar latar belakang saja, banyak hal-hal komplek lebih mendalam yang dia coba sampaikan dalam film ini seperti isu-isu humanis dan hak azasi manusia yang kemudian menjadi lebih penting dari persiteruan tidak berakhir itu sendiri.

Said (Kais Nashef) dan Khaled (Ali Suliman) adalah dua sahabat warga Palestina yang tinggal di Nablus. Sebagai pemuda tanpa pendidikan dan latar belakang skill yang memadai mereka hanya terjebak pada pekerjaan montir dengan gaji yang sangat kecil. Sampai suatu hari seorang bernama Jamal mengubah hidup mereka, untuk selamanya. Jamal memberi tahukan mereka Said bahwa dia terpilih menjadi pembawa bom ke Tel Aviv, Israel. Bom tersebut adalah bom bunuh diri.

Dalam waktu tidak sampai 48 jam kedua sahabat ini harus mempersiapkan diri untuk sebuah ‘pekerjaan’ yang bahkan mereka sendiri tidak siap untuk melaksanakannya. Sebuah tugas yang akan mengubah segalanya. Sebuah pengorbanan atas nama ajaran Agama dan rasa nasionalisme yang mereka junjung tinggi untuk negaranya. Dilema demi dilema menjadi benturan kepercayaan dan ketakutan. Kebingungan menjadi masalah selanjutnya dalam hidup Said dan Khaled.

Hanny Abu Assad menawarkan masalah benturan pemahaman agama yang pelik dengan jawaban yang tidak mudah. Ingin memberikan gambaran mengenai kegiatan bom bunuh diri dilihat dari sudut pandang yang berlawanan, dari sudut pandang pelakunya. Dengan bermaksud untuk membangun rasa simpati antara penonton dengan si pelaku bom bunuh diri. Dengan cerdas film ini mengupas alasan-alasan Said dan Khaled memutuskan melakukan itu. Mencoba menilik ke dalam relung hati dan pikiran mereka untuk mencari apa tujuan sebenarnya. Dan bahkan kemudian mementahkan alasan-alasan tersebut dengan benturan pada apakah hal tersebut bener-benar ingin mereka lalukan.

Membawa ajaran Agama tertentu menjadi isunya tentu terlihat agak begitu riskan. Namun dari sudut pandang sebuah karya film, tidak ada aspek yang sebenarnya ingin digunakan untuk dipertentangkan. Sebuah film yang menghadirkan rasa empato dan membuat kita mengerti bahwa tidak ada situasi yang bisa dipahami sepenuhnya. Tidak ada pihak yang ingin dipojokkan. Membuktuikan bahwa tidak ada pihak manapun yang dimenangkan dalam kejahatan moral tersebut. Semua itu tersaji dalam gambar-gambar yang minimalis.


Sebuah kesimpulan akhir menjadi penyelesain bagi film ini, tentu maksudnya adalah pemikiran tentang motif apakah sebenarnya yang menyebabkan seseorang bersedia melakukan hal-hal yang terlihat diluar akal sehat. Termasuk dengan merelakan hidupnya, merelakan nyawanya. Apakah benar JIHAD itu sendiri? Atau kemiskinan, ketidakberdayaan. Bagaimana pembuktiaannya bahwa memutusakan untuk menghilangkan nyawa sendiri dan nyawa orang lain dilihat sebagai sebuah tujuan akhir yang jadi tidak masuk akal. Benarkah kemudian akan diraih “Paradise Now”?





















Liat yuuuk trailernyaaaa :D






The Elite Squad II

Empat tahun bagi Jose Padilha untuk menyiapkan sekuel film blockbuster Brasil 2007, The Elite Squad. Tidak hanya sukses di negaranya sendiri. Film ini juga sukses pada peredaran Internasional, mendapatkan banyak penghargaan dari festival dan penghargaan film bergengsi tingkat dunia. Dengan alasan-alasan ini mungkin Padilha tergoda untuk mengulang sukses dengan merilis film lanjutannya pada akhir 2010 lalu. Saat rilis 8 Oktober 2010 lalu film ini berhasil mendulang pendapatan sebesar BRL 13,900,000 dari 661 layar bioskop, menjadikannya sebagai salah satu film terlaris di Brasil sepanjang 2010.

Film mengambil jalan cerita 15 tahun setelah film pertama. Beto (Wagner Moura) telah menjadi pejabat BOPE dan masih berjuang melawan peredaran obat-obatan terlarang. Tetapi perjuangan Beto tidak lagi sama, tidak lagi hanya menghadapi dealer-dealer biasa. Kali ini perang Beto dan BOPE adalah menghadapi sindikat besar kepolisian, militer dan penjabat-pejabat negara, para politikus busuk yang justru memanfaatkan bisnis-bisnis tersebut dengan melegalkan segala macam cara untuk membuka peluang semakin kuat menduduki lembaga politik tertinggi Brazil.

Seperti dalam film pertama, kali ini kembali penonton dipandu dengan narasi dari Beto. Beto memperkenalkan Diogo Fraga (Irandhir Santos) yang sedang mepresentasikan bagaimana kondisi masyarakat Brasil tahun 2010 dan hubungan garis lurusnya dengan tindak kriminal dan penjara. Jika populasi Brasil tahun 2010 adalah 50 juta jiwa, maka pada tahun 2081 menjadi 570 juta jiwa. Jika populasi penghuni penjara Brasil pada tahun 2010 8 juta jiwa, makan pada tahun 2081 menjadi 510 juta jiwa. Jadi 90% penduduk Brasil pada tahun 2081 akan menjadi penghuni penjara. Hasil perkiraan statistik yang dipresentasikan Fraga ini bukan tanpa alasan. Kriminalitas yang setiap tahun meningkat dan tindakan penanggulangan dari Pemerintah yang tidak memperlihatkan keseriusan. Pemerintah begitu sibuk dengan urusan pribadinya, mereka sibuk memikirkan bagaimana bisa mempertahankan jabatan, bagaimana bisa mendapatkan posisi yang semakin aman di Pemerintahan. Sementara itu pihak yang berkewajiban menjadi pemberantas kejahatan  yaitu polisi justru malah menjadi pelakunya sendiri. 

Hubungan Beto dengan istrinya, Rosane (Maria Ribeiro) semakin tidak harmonis, mereka bercerai. Rosane ternyata memiliki hubungan khusus dengan Diogo Fraga. Anak Beto, Rafael (Pedro Van-Held) yang dalam film pertama dikisahkan baru lahir telah tumbuh menjadi seorang anak muda 15 tahun yang pendiam, terlihat begitu merindukan sosok ayah yang sebenarnya dari Beto. Keterlibatan Beto dan Fraga pada permasalahan pejabat dan politikus kotor dalam melegalkan bisnis senjata dan obat-obatan terlarang akhirnya justru menarik secara tidak langsung keterlibatan Rafael. Inilah kemudian yang berkembang menjadi sangat personal bagi Beto.

Ironi inilah yang kembali coba digali oleh Padilha. Pejabat pemerintah yang semestinya memberikan dukungan justru menduduki menara-menara tertinggi sistem kebobrokan  itu sendiri. Saat para pejabat petinggi terlibat tentu benturan-benturan birokrasi yang bertele-tele pada sistem pemerintahan menjadi rintangan besar. Premis film ini tidak jauh berbeda dari film pertama. Hanya kali ini masalah lebih difokuskan pada keterlibatan pada pejabat pemerintahan demi melancarkan bisnis kotor itu. Selain itu film ini melibatkan jurnalis. Polisi bersih, polisi kotor, pejabat licik dan jurnalis idealis menjadi polemik yang semakin kompleks untuk permasalahan serius ini. Inilah benturan-benturan kepentingan banyak pihak dalam mengendalikan sebuah situasi yang tentunya menjadi akan semakin buruk jika semakin banyak pihak yang terlibat di dalamnya.

Namun sayangnya Padilha tampaknya tidak terlalu ingin berlama-lama memperlihatkan kebrobrokan Pemerintahnya sendiri karena kemudian permasalahan yang muncul menjadi semakin personal untuk setiap karakternya. Semakin menuju akhirnya film ini menjadi tidak lagi memiliki esensi utamanya mengenai pemberantasan obat-obat terlarang dan pemerintahan busuk tetapi menjadi sederhana dengan dendam pribadi antar karakternya. Tidak ada lagi masalah politik, peredaran narkoba, hanya tersisa aksi balas dendam menyelamatkan anggota keluarga.

Meskipun mengambil premis cerita yang lebih berat dengan melibatkan pejabat Pemerintah, tetapi justru terasa hanya menjadikan hal itu sebagai latar belakang semata. Jalinan kisah terlalu dibuat rumit sehingga pada beberapa bagian terasa sekali kesenjangan plot. Masalah-masalah yang semakin bertumpuk kemudian mengambang begitu saja karena kemudian pada bagian penyelesaian fokus agak membaur dengan masalah pribadi dan tanpa adanya penyelesaian jelas untuk premis yang justru dari awal menjadi telah dihembuskan dengan baik.

Wagner Moura, Maria Ribeiro, Andre Ramiro dan Milhem Cortaz kembali memerankan karakter mereka pada film pertama, tidak ada sesuatu yang menonjol dari penampilannya. Mereka seperti terjebak tidak mampu mengembangkan karakter-karakter tersebut karena tidak mendapatkan porsi yang cukup, atau karena memang naskah film ini yang memberikan porsi tidak maksimal untuk karakternya. Bahkan Wagner Moura gagal memberikan penampilan terbaiknya seperti pada film pertama, meskipun ada beberapa adegan yang memberikannya porsi emosional yang tinggi tetapi tidak semaksimal dalam film pertama. Justru yang memberikan penampilan prima adalah Irandhir Santos sebagai Diogo Fraga.

Director :
Jose Padilha
Screenplay:
Braulio Mantovani
Jose Padilha
Cast :
Wagner Moura – Beto
Maria Ribeiro – Rosane
Andre Ramiro – Andre
Milhem Cortaz – Fabio
Irandhir Santos – Fraga
Andre Mattos - Fortunato
Seu Jorge – Beurada
Taina Muller – Clara
Pedro Van-Held – Rafael

Terlepas dari segala kekurangan film ini (dibandingkan dengan film pertama) film ini masih menyisakan ketegangan adegan-adegan baku hantam senjata pasukan elite BOPE dengan para penggedar dan bandar narkoba. Teknis film yang dikerjakan lebih sempurna dari film pertama karena secara sinematografi, editing, efek, sound dan make-up film ini semakin detail, rapi dan tereksekusi maksimal.

Pada Cinema Brasil Grand Prize 2011, The Elite Squad II mendapatkan kehormatan dengan 16 nominasi. Menjadi film pertama dalam 10 tahun perhelatan Oscarnya Brasil ini yang memperoleh nominasi terbanyak. Uniknya naskah film ini tetap dinominasikan untuk naskah asli terbaik, padahal semua karakter dan jalan ceritanya adalah adaptasi dari film pertama. Kita tunggu saja Mei 2011 ini, apakah film ini akan kembali mencatatkan kesuksesan kualitas seperti film pertamanya tahun 2008 lalu.

Beberapa foto tentang film The Elite Squad II












Ini diaaa trailernyaaaa