5 artis/aktor tercantik dan tertampan

Hallo kawan, lama tak berjumpa uhuhuhu seneng deh seneng banget masa hari ini gatau kenapa hahaha (curhat -____-) ehiya apa kabar nih semua ? baik baik aja yaaa amin mudah”an hehehe

Sekarang athif dan lia mau ngasih tau nih aktris dan actor tercantik dan tertampan sedunia wuhui siapa hayoo tebak coba kalo udah penasaran langsung geser kursornya kebawah deh liat :-D

Buat yang ceweknya dulu deh nih

1.   Zoya Shah (United Arab Emirates)


















2.   Ebihara Yuri (Jepang)

















3.   Aishwarya Rai (India)














4.   Shu Qi (Taiwan)















5.   Fatima (Prancis)














Buat yang cowoknya niiih, ayoo para wanita siap siap melihat ketampanan actor berikut hehe

1.   King Faisal (Saudi Arabia)













2.   Hritik Roshan (India)














3.   Imran Abbas (Pakistan)


















4.   Singer (Turki)


















5.   Vich Zou (Taiwan)




















Gimana cantik cantik dan tampan-tampan kan ? hehehe :)

The Pope's Toilet

Film ini adalah adaptasi kisah masyarakat di Melo, sebuah kota kecil di perbatasan Brasil dan Uruguay ketika kunjungan Paus Johannes Paulus II tahun 1988. Membuat kisah fiksi dengan latar belakang kejadian nyata sudah menjadi komoditi banyak produksi film. Dari dalam negeri sendiri kita mengenal May (2008) yang mengambil latar belakang kerusuhan Jakarta 1998. Contoh lain adalah karya terbaru dari Clint Eastwood, Hereafter (2010), film ini berlatar belakang bencana Tsunami yang melanda Asia Tenggara tahun 2004 silam. 
Mari kita kembali pada The Pope’s Toilet. Film ini adalah karya perdana Cesar Charlone dan Enrique Fernandaz. Charlone sebelumnya lebih dikenal sebagai director of photography. City of God (2002) adalah salah satu dari begitu banyak film-film produksi Brazil yang memanfaatkan “tangan dinginnya” memegang kamera. Kerjanya pada film itu memberinya nominasi Oscar untuk penata kamera terbaik. Berbekal pengalaman banyak memegang kamera, Charlone memulai karier barunya sebagai sutradara dengan film ini, dan langkah itu tidak salah. Film ini menuai banyak pujian, salah satunya berhasil menjadiUn Certain Regard Cannes 2008.

The Pope’s Toilet atau El Bano del Papa berkisah pada perjuangan hidup Beto (Cesar Troncoso), istrinya Carmen (Virginia Mendez) dan anak perempuan tunggal mereka Silvia (Ruiz) hidup dengan kemiskinan di Melo, daerah perbatasan Uruguay dan Brasil. Sehari-hari Beto harus membangun keberanian untuk bisa luput atau menghadapi pemeriksaan dari polisi-polisi perbatasan karena aktivitasnya menjadi pemasok berbagai barang kebutuhan sehari-hari. Setiap hari Beto mengayuh sepeda tuanya menapaki jalanan pasir melintasi perbatasan untuk memenuhi permintaan pemilik toko  demi persediaan kebutuhan pokok yang hanya tersedia di daerah perbatasan bagian negara Brasil.

Berita mengenai kunjungan Paus ke Melo, memberi ide cemelang pada Beto dan didukung penuh oleh istrinya. Dia akan mendirikan sebuah “toilet untuk Paus”. Ide cemerlang itu muncul karena sebuah informasi dari televisi, bahwa kota kecil itu akan disesaki 50.000 wisatawan dari Brasil dan Uruguay yang datang untuk mendengarkan khutbah akbarnya Paus selama kunjungan. 
Kedatangan Paus tentu menjadi aset berharga bagi masyarakat Melo. Bagi pemeluk Katholik taat ini menjadi berkah kemuliaan hidup. Sedangkan bagi sebagian lagi menjadi lahan untuk memperbaiki taraf hidup dengan mempersiapkan diri membuka berbagai jenis usaha bagi para pengunjung yang akan datang. Selanjutnya adalah bagaimana Beto berjuang sekuat tenaga untuk merealisasikan idenya itu. Karena memang tidak mudah. Usahanya mendapatkan sebuah closet untuk ide toiletnya mengalami banyak rintangan. Masalahnya datang dari biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli closet dengan kemiskinan yang menjadi isu utama hidup mereka. Toilet itu harus selasai sebelum Paus datang.

Justru inilah benturan yang kemudian terjadi. Kunjungan seorang Paus pada daerah miskin, tentu diharapkan mendatangkan kemuliaan, tetapi kenapa kemudian justru terjadi sebaliknya. Ironi ini terjadi pada Beto, juga pada sebagian besar penduduk Melo. “Kemualiaan” kunjungan Paus justru menjadi titik awal kehidupan mereka semakin memprihatinkan. Kedatangan Paus kemudian hanya meninggalkan beban makin berat pada hidup mereka, hanya menyisakan hati yang sesak, amarah dan sikap anti Paus yang kemudian diperlihatkan Beto diakhir film.

Inilah kisah perjuangan untuk menuju hidup yang lebih baik lagi. Sebuah ide sederhana untuk memperbaiki taraf kehidupan tanpa menjual mimpi yang terlalu tinggi untuk diraih. Berusaha sesederhana mungkin untuk mewujudkan semua dengan usaha yang bahkan tidak sederhana lagi (jika sudah mengarah pada kriminal).

Film ini mempertanyakan apakah saat kita begitu dekat dengan seorang yang “kita tunjuk” mulia dihadapan Tuhan dan kemuliaan itu akan menghampiri hidup kita?. Bahkan tanpa keinginan perbaikan kehidupan yang muluk-muluk, hanya berupaya membuatnya sedikiti lebih baik saja. Tetapi saat Tuhan berkat “tidak/belum” untuk rejeki yang lebih baik, bagaimana mestinya sebagai hambaNya kita menghadapi?. Berusaha  bijak menerima kenyataan dan tetap menjadi hambaNya yang setia. Atau justru memilih menjadi kafir dan membenciNya. Pilihan tentu diserahkan pada kita. Dalam film ini pilihan terakhir adalah hidup Beto selanjutnya.

Director : Cesar Charlone & Enrique Fernandez
Cast : Cesar Troncoso, Virginia Mendez dan Virginia Ruiz

Beberapa poin penting yang membuat film ini bagus adalah Naskah film yang provocatif (menjelang film berakhir penoton “dipaksa” berpihak pada Beto yang mempertaruhkan keimanannya). Pemanfaatan beberapa footage asli kunjungan Paus. Sinematografilandscape perbatasan Brasil-Uruguay yang indah menjadi ironi terhadap kemiskinan penduduknya dan tentu adalah Akting memikat dari Cesar Troncoso yang memerankan Beto.

Selain sukses di Cannes, film ini juga meraih penghargaan dari beberapa festival film dunia. Horizon Awards dari San Sebastian International Film Festival 2007. Best first workdari Guadalajara Internatinal Film Festival 2008 dan Lleida Latin American Film Festival2008. Film, Aktor, Aktris dan Naskah terbaik dari Gramado Film Festival Brazil 2007. Serta mendapatkan 4 nominasi pada perhelatan Oscarnya Brazil, Cinema Brasil Grand Prize 2009 untuk film, aktor, naskah dan sinematografi terbaik.

Dan seperti biasa foto dan trailernya kami sediakan hehe







The Black Balloon

Mental terbelakang karena jaringan otak tidak berkembang dengan sempurna atau yang lebih dikenal dengan autistic menjadi isu utama dalam film ini. Penderita autistic memiliki dunianya sendiri, tanpa bisa mengontrol semua tindakan yang mereka lakukan. Baik dan buruk tidak begitu bisa mereka bedakan, karena perkembangan jaringan otaknya yang lambat atau bahkan berhenti. Sebagian penderita penyakit ini tidak mampu membedakan mana yang baik untuk dilakukan, mana yang tidak. Ini juga tergantung pada tingkat perkembangan otak mereka. Pada beberapa penderita autistic ini daya pikir cerna mereka berhenti pada usia balita, beberapa ada yang mencapai usia 7 tahun. namun tidak semua penderita autistic memiliki IQ rendah. Sebagian dari mereka dapat mencapai pendidikan tinggi

Seperti dalam film ini, Charlie (Luke Ford) penderita autistic yang perkembangan otaknya hanya sampai pada usia balita, padahal secara fisik dia terlihat seperti remaja berusia 18th. Tentu dengan tubuh layaknya orang dewasa namun otak hanya memiliki kapasitas berpikir tidak lebih dari anak usia 5 tahun, Charlie begitu merepotkan keluarganya. Tidak saja anggota keluarga dibuat kucar-kacir olehnya, termasuk orang-orang sekitar mereka. Inilah kemudian yang menjadi dilema berat untuk keluarganya. Bagaimana menghadapi sikap sinis, olok-olok, merendahkan dan bahkan menghina.

Thomas (Rhys Wakefield) harus membesarkan hati dengan penyakit saudaranya. Tidak mudah bagi Thomas untuk lapang dada menghadapi ini. Dengan usia yang terpaut tidak jauh dari Charlie, otomatis secara fisik mereka sama besarnya. Tetapi dengan keadaan Charlie, Thomas diminta melihat nuraninya. Atas nama cinta pada saudara, atas nama hubungan darah, Ibu (Toni Collete) yang dalam kondisi hamil tua dan ayah (Erik Thompson) memintanya berdamai dengan keegoisan demi Charlie. 

Penderita autistik memiliki prilaku stimulasi diri seperti berputar-putar, mengepak-ngepakkan tangan seperti sayap, berjalan berjinjit, mengeryitkan bagian hidung seperti sedang mengendus, dan sebagainya. Gejala ini ditampilkan detail dalam film . Diperlihatkan juga Charlie begitu senang mengerakkan tangan sambil memukul-mukulkan tongkat kayunya ke lantai.

Ketika Thomas memulai berhubungan dengan Jackie (Gemma Ward), dia berusaha menutupi kenyataan itu. Jackie memang kaget ketika pertama datang mengantar topi Charlie yang tertinggal saat Charlie kabur dan masuk sembarangan ke rumahnya. Jackie melihat Charlie yang mengacak-acak kotorannya sendiri. Tidak mudah bagi Thomas untuk membuka ‘aib’ ini pada Jackie. Perlahan Jackie mulai bisa merasakan kegelisahan jiwa muda Thomas yang terpenjara dengan kondisi suadaranya itu.

Director : Elissa Down
Cast : Rhys Wakefield, Toni Collette, Luke Ford, Erik Thompson & Gemma Ward


Film ini mempertanyakan sejauh mana seorang manusia yang ‘sehat’ bisa berpikir dan bertindak sehat menghadapi seorang yang jauh dari kata sehat dan bahkan tidak bisa berpikir. Tentu ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Memilih untuk mementingkan diri sendiri dan menjadi pribadi yang picik dan kerdil. Atau memilih untuk bijak karena membawa diri menjadi pribadi atau manusia yang lebih baik tentu dengan memaklumi dan menerima dengan lapang dada seseorang yang bahkan tidak bisa memakai pakaian sendiri.

Pilihan kedua yang akhirnya diyakini oleh Thomas. Mencoba berdamai dengan keegoisannya. Mencoba memahami dan memaklumi semua tindakan tanpa pikir Charlie. Menelusuri lubuk nurani yang paling dalam untuk membangun logika yang adil. Adil baginya, bagi Charlie dan keluarganya.
 Film ini menjadi film anak-anak terbaik pada Asia Pacific Screen Awards 2008. Dari Australian Film Institute 2008, film ini meraih 6 penghargaan dari 11 nominasi yang diperolehnya, untuk film, sutradara, naskah asli, pemeran pendukung pria dan wanita terbaik. Serta meraih Crystal Bell dari Berlin International Film Festival 2008.

Ini diaaa foto dan trailernyaaa :-D







Le Grand Voyage

Le Grand Voyage atau dalam bahasa Inggris The Grand Journey adalah film pembuka penyelenggaraan Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2005. Film ini menjadi salah satu yang paling sukses meraih banyak penonton selama penyelenggaraan Jiffest. Bagaimana tidak? Cerita mengenai seorang ayah yang ingin naik haji tentu begitu dekat dengan budaya bangsa ini yang mayoritas muslim dan puluhan ribu warganya melakukan ibadah rukun islam ke 5 itu setiap tahunnya menuju Mekah, Saudi Arabia.

Reda (Nicolas Cazale) adalah seorang pemuda perancis pada umumnya. Terjebak pada kehidupan dan pola pikir liberal semakin menjauhkan Reda dari cikal bakal dan kultur aslinya. Reda terlahir dari ayah (Mohamed Majd) keturunan Maroko yang adalah seorang penganut islam taat. Ayahnya merasakan kegagalannya dalam mendidik Reda menjadi pribadi muslim yang taat. Hubungan Reda dan ayahnyapun terlihat hambar dan tanpa rasa yang baik. Tidak ada kedekatan bagaimana mestinya seorang anak laki-laki menjadi kebanggaan ayahnya. Hal ini terlihat ketika suatu hari ayahnya memutuskan naik haji dengan mengendarai mobil dan meminta Reda untuk mengantarkannya. Ayahnya bermaksud untuk memperbaiki hubungan dengan Reda, tetapi justru Reda berpikir bahwa apa yang direncanakan ayahnya tidak mungkin dan berlebihan. Penolakan yang dilakukannya tidak berbuah kegagalan rencana sang ayah. Reda bahkan hanya diberikan waktu 4 hari untuk bersiap-siap dan bahkan ayahnya telah mempersiapkan visa bagi Reda untuk keberangkatan mereka. Reda akhirnya tetap harus mengantarkan ayahnya naik Haji ke Mekah dengan mengendarai mobil.

Perjalanan mereka tidak berjalan mulus. Selain pertentangan diantara mereka, kejadian-kejadian unik dan menarik kerap kali mereka temukan, seperti misalnya bertemu dengan seorang wanita penumpang misterius, masalah dokumen perjalanan karena mereka melintasi banyak negara, bertemu dengan seorang penolong yang justru belakang mencuri uang mereka bahkan tersesat dan harus menghabiskan malam pada daerah bersalju minus 0 derjat. Jarak sekitar 5000 km yang mereka tempuh memberi banyak pengalaman berarti bagi mereka berdua. Perjalanan inilah kemudian yang membangun kembali hubungan Reda dengan Ayahnya. Perjalanan yang memberikan Reda arti hidup tak terlupakan sepanjang sisa hidupnya ke depan. Sebuah pengalaman yang akan merubah Reda untuk selamanya. Pertentangan demi pertengangan dengan pola pikir yang berbeda antara Reda yang berkultur barat dan Ayahnya yang religius menjadi kekuatan utama film ini. Pertemuan dua individu dalam dua budaya berbeda.

Director:
Ismael Farreoukhi

Cast:
Nicolas Cazale – Reda
Mohamed Majd – Reda’s Father
Jacky Nercessian – Mustapha
Ghina Ognianova – La Ville Femme
Kamel Belghazi – Khalid
Atik Mohamed – Ahmad
Malika Mesrar El Hadaoui – La Mere
Francois Baroni – Le Douanier Italien

Dialog-dialog Reda dan Ayahnya berhasil dibangun dengan demikian kontrasnya sehingga membuat penonton tertawa sekaligus takjub. Sebuah dialog yang cukup berkesan mendalam adalah saat Reda mempertanyakan kenapa ayahnya lebih memilih naik mobil dari pada naik pesawat. Ayahnya berkata “When the waters of the ocean rise to the heavens, they lose their bitterness to become pure again...the ocean waters evaporate as they rise to the clouds. And as they evaporate become freah. That’s why its better to go on your pilgrimage on foot thab on horseback, better on horse back than by car, better by car than by boat, better by boat than by plane”. Dialog ini kira-kira bermakna bahwa melakukan ibadah akan mendapatkan pahala lebih bermakna dengan caranya yang paling sederhana.

Film ini syuting dengan melakukan perjalanan yang sama dengan cerita filmnya sendiri. Melintasi Perancis selatan, melalui Italia, Slovenia, Bosnia, Yugoslavia, Bulgaria, Turki, Syria, Yordania, dan berakhir di Mekah, Saudi Arabia. Syuting juga harus mengalami situasi yang sulit karena mengingat keadaan Bosnia yang tidak kondusif. Melintasi banyak negara membuat film ini memiliki sinematografi yang sangat indah dan megah. Gambar-gambar terekam dengan menakjubkan dan terlihat begitu nyata. Musik pengiring film yang menyegarkan berhasil menambah poin terbaik film ini. Mekah sebagai situs paling utama bagi umat muslim diperlihatkan dengan begitu agung.

Adegan sang Ayah menyusul Reda pada sebuah bukit batu yang tinggi dan meminta Reda bantuan untuk yang terakhir kalinya berhasil membuat takjub dan tersentuh. Sebuah film tentang perjalanan hati dan pikiran dua manusia dan mencoba untuk melihat pada lubuk hati paling dalam untuk menemukan apa yang mestinya dan sebenarnya dicari dalam hidup. Film yang jujur mengangkat latar belakang agama tanpa terbebani isu agama itu sendiri. Sangat inspiratif dan luar biasa.

Aktor muda pendatang baru Nicolas Cazale yang berperan sebagai Reda berhasil bermain baik, memperlihatkan seorang pemuda yang kehilangan identitasnya. Cazale berhasil mengimbangi akting cemerlang aktor senior Perancis keturunan Maroko Mohamed Majd yang bermain sebagai ayahnya. Kedua aktor ini berhasi menyajikan kekakuan hubungan ayah anak. Cazale menerima penghargaan sebagai aktor terbaik dari NewPort International Film Festival 2005 sedanng Majd menerima gelar yang sama dari Mar del Plata Film Festival 2005 dan juga untuk film terbaik pada ajang penghargaan yang sama. Le Grand Voyave juga menerima penghargaan Luigi de Laurentis Awards pada Venice Film Festival 2004 serta mendapatkan nominasi film berbahasa asing terbaik pada BAFTA 2005.


Ini diaaa foto"nyaaa dan trailernya hehehe